Sinopsis
Novel Ayah, Mengapa Aku Berbeda? Karya Agnes Davonar (Penulis Novel SKUT)
Bila semua teman-temanku bernyanyi,
aku hanya bisa terdiam. Aku tidak pernah tau harus bagaimana mengatakan pada
dunia bertapa aku sangat ingin seperti mereka, bisa mendengar dan bernyanyi
layaknya kehidupan normal.
Sayangnya aku terlahir dengan
keadaan tuli, lebih sadisnya terkadang mereka orang-orang yang tidak pernah
mengerti perasaanku berkata kalau aku “ BUDEK” dan itu dituliskan di kertas
untukkku tepat di meja belajarku di kelas.
Tapi aku tidak pernah merasa ingin
membalas semuanya, karena aku sadar inilah hidupku dan inilah takdirku.
Dulu semasa kecil mungkin aku tidak
pernah merasa beban ini begitu besar dalam hidupku, ketika menyadari aku
beranjak remaja dan melihat aku berbeda diantara sahabat-sahabatku. Di depan
mading sekolahku tertulis sebuah pengumuman pembentukan tim musik sekolah, aku
ingin ikut dalam tim itu tapi sayangnya aku hanya bisa meratapi nasibku. Aku
pun pulang untuk bertemu dengan ayah, aku terduduk dengan wajah penuh
kesedihan,
Dalam duniaku, hanya ayah yang bisa
mengerti apa yang aku katakan. Walaupun itu harus dengan bahasa tangan yang ia
pelajari dengan susah payah.
Aku mengetuk pintu untuk memberi
tanda aku ada di kamar untuk bicara dengan ayah, ia melihatku dan melempar
senyum.
“ Angel, ayo masuk. Silakan duduk
disini nak, ada apa? Bagaimana pelajaran kelas kamu hari ini?”
Aku tertunduk, lalu ayah mulai bisa
membaca wajahku.
“ Apa yang terjadi nak, ceritakan
pada ayah?”
“ Ayah mengapa aku berbeda dari
teman-temanku?”
“ Dalam hal?” tanya ayah padaku,
Aku menangis dan usiaku saat itu
hanya 12 tahun dan duduk di sekolah menengah pertama.
“ Aku tidak bisa bernyanyi, tidak
bisa mendengar.. Mengapa ayah?”
Ayah melihatku sambil tersenyum,
“ Apakah kamu merasa bersedih karena
itu?”
“ Ya, aku sangat bersedih.. Aku
ingin seperti mereka.. Bisa bernyanyi dan mendengarkan indahnya musik..”
“ Mengapa kamu ingin menjadi seperti
mereka?”
“ Karena aku ingin menjadi tim musik
sekolah, aku ingin ayah..”
“ Kalau begitu lakukan..”
Aku terdiam tidak bisa membalas
pertanyaan ayah kemudian ia bangkit dan mengajakku ke ruangan gudang di
belakang rumahku, ia mulai membersihkan debu-debu di sebuah meja panjang yang
tadinya kupikir adalah meja makan. Ternyata itu adalah piano klasik. Aku
memperhatikanya dengan heran,
“ Ini adalah peninggalan ibumu
sebelum ia meninggal setelah melahirkan kamu, ayah sudah tidak pernah
mendengarkannya sejak kamu terlahir..”
“ Lalu..?” tanyaku.
“ kamu mungkin terlahir tanpa bisa
mendengar dan bernyanyi. Tapi kamu terlahir dari rahim seorang ibu yang
berjuang agar kamu ada di dunia ini dan ayah percaya, Tuhan memberikan kamu
dalam kehidupan karena kamu memang layak untuk itu.”
“ Tapi aku cacat, tidak normal dan
tidak akan pernah bisa mendengar musik? Bagaimana caranya aku bisa seperti
teman-temanku.”
“ Sayang kamu memang tidak bisa
mendengarkan musik, tapi kamu bisa memainkan musik?”
“ Bagaimana caranya?”
“ Ayah ada disini untuk kamu dan
percayalah, musik itu akan terasa indah bila kamu merasakannya dari hati kamu.
“
“ Walaupun aku tidak bisa
mendengar..”
Ayah duduk dikursi dan menyuruhku
memperhatikannya bermain piano, Ia menutup matanya lalu memainkan arunan toth
piano itu.
“ Anakku, rasakanlah musik itu dalam
hati dan kamu akan tau bertapa Tuhan sangat mencintai siapapun makluk yang ia
ciptakan. Walaupun kamu terlahir dengan keadaan cacat dan tidak bisa
mendengarkan suara musik itu dari telinga kamu.. Kamu bisa dengarkan lewatkan
hati kamu..”
Ayah mengajakku untuk menyentuh
setiap toth piano dan kami bermain bersama, aku memang tidak bisa merasakan apa
suara music itu tapi aku bisa merasakan nada dari jari yang ketekan dan itu
membuatku bersemangat untuk berlatih piano klasik, aku tau ibuku adalah seorang
pemain piano sebelum ia meninggal saat melahirkanku. Aku pun berjuang untuk bermain
musik dan perlahan aku mampu membuat sedikit alunan music yang indah. Semua itu
kurasakan dalam hatiku, semua itu kurasakan dalam jiwaku.
Beberapa minggu kemudian, aku mulai
berani mendaftar dalam tim musik sekolahku dan guruku menerimaku walaupun ia
tau aku cacat tapi setelah aku mainkan piano dan ia terkesan. Aku tau semua
orang melihatku dengan aneh, seorang teman bernama Agnes datang padaku.
“ Hai orang cacat, apa yang bisa
kamu lakukan dengan telingamu yang tertutup kotoran?”
Yang lain tertawa dan menambah
kalimat yang melukai hatiku,
“ Dia mungkin mau jadi badut
diantara tim kita, biarkan saja..”
Ejekan itu berakhir saat guruku
datang, mereka semua kembali ke posisi mereka masing dalam alat music yang
mereka kuasai. Ibu guru pembimbing kelas musik bersikap hangat padaku, ia
memperkenalkanku pada semuanya.
“ Anak-anak mulai hari ini Angel
akan bergabung dalam tim kita, semoga kalian bisa berkerja sama dengan Angel
ya..”
“ Ibu apa yang bisa lakukan untuk
tim kita, dia kan budek?” ejek Agnes.
“ Agnes!! ibu tidak pernah
mengajarkan kamu untuk menghina orang lain, jaga sikap kamu. Walaupun Angel
cacat secara fisik ia juga memiliki perasaan, tolong kendalikan kata-kata
kamu.”
Aku senang ibu membelaku tapi itu
malah membuat semua membenciku, ibu mempersilakan aku memainkan piano, dengan
gugup aku bisa bermain dengan baik. Tidak ada satupun tepuk tangan dari
teman-temanku, hanya ibu guru seorang. Ketika kelas bubar aku mendekat pada ibu
guru, aku menuliskan apa yang ingin aku katakan kepadanya, Ia membacanya.
“ Ibu , aku mundur saja dari tim,
aku tidak mungkin bisa menjadi bagian dari mereka. Karena aku ini cacat. Mereka
tidak akan menerimaku?”
“ Tidak sayang, jangan berkata
demikian, kamu special, kamu berbakat, mereka hanya belum terbiasa, percayalah
kalau kamu sudah sering bermain dengan mereka. Kamu akan diterima dengan suka
cita. Jadi ibu tidak mau mendengarkan kalimat kamu ingin mundur..”
“ Tapi bu, aku takut bila membuat
semua jadi kacau.”
“ Anakku, beberapa minggu lagi,
sekolah ini akan merayakan hari ulang tahunnya, ibu percaya kamulah
satu-satunya orang yang layak mengisi tempat di bagian piano, karena teman kamu
Rika ( pianis sebelumnya) telah mundur karena sakit cacar”
Aku pulang ke rumah dan memberi
kabar kalau aku diterima dalam tim musik sekolah, ayah begitu gembira menunggu
saat-saat aku akan berada dipanggung, ia terus melatih permainan pianoku. Aku
tidak pernah cerita bertapa aku sangat diremehkan oleh teman-teman se-timku
yang hanya menganggap aku sampah yang tidak layak disamping mereka. Mereka
sering memarahi aku dengan kata-kata kasar lalu mereka menghinaku sebagai gadis
caca, hal itu terus terjadi disaat kami berlatih persiapan untuk panggung
sekolah . Mereka tidak pernah peduli apa yang kumainkan bila benar, mereka
selalu bilang salah. Padahal aku yakin aku benar-benar memainkan musik piano
ini, sedihnya saat aku bertanya dimana letak kesalahanku yang mereka jawab
lebih menyakitkan.
“ Kamu ini tuli dan budek, bagaimana
bisa kamu tau alunan musik yang kamu mainkan itu benar atau salah? Kamu membuat
aku muak dengan sikap kamu yang sok pintar dan mencari muka di depan bu guru.”
Kata Agnes padaku.
Aku menangis mendengarkan kalimat
itu, aku berlari pulang ke rumah dan satu-satunya kalimat yang kudengar hanya
satu. “ Pergi kamu gadis cacat, jangan pernah kembali ke tim kami, kami tidak
sudi menerima kamu dalam kelompok ini.”
Aku menangis hingga di depan rumahku
dan ketika aku tiba di gerbang rumahku, sebuah mobil ambulan ada didepan
rumahku dan membawa ayah. Aku mengejar perawat yang membawa ayah, ayahku tampak
tertidur tanpa bicara, seorang tetanggaku berkata padaku.
“ Ayahmu terkena serangan jantung,
kamu ikut tante saja. Kita pergi bersama-sama ke rumah sakit.”
Aku shock dan menangis! Bagaimana
hidupku tanpa ayah? Sepanjang perjalanan aku terus menitihkan air mata. Ayah
tidak sadarkan diri sejak sakit jantungnya kambuh, ia memang memiliki sakit
jantung sejak menikah padahal usianya masih sangat muda. tiga hari lamanya aku
menemani ayah yang tidak pernah sadarkan diri. Tiga hari pula aku tidak pernah
ke sekolah, bu guru bertanya pada Agnes mengapa aku tidak masuk hari ini?”
“ Mungkin Angel merasa tidak sanggup
lagi bergabung dengan tim kita, dia itu bodoh bu! Selalu melakukan kesalahan
dan dia pergi begitu saja saat latihan dan tidak pernah kembali hingga saat
ini.”
Ibu guru mencoba pergi ke rumahku,
tapi tidak ada seorang pun orang dirumahku. Aku tau beberapa hari lagi
perayaaan musik di sekolahku akan dimulai. Mungkin memang sudah menjadi garis
tangan hidupku, aku tidak boleh menjadi tim sekolah. Padahal aku sudah berjuang
maksimal berlatih piano di rumah. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain
menjaga ayahku karena ia lebih penting dalam hidupku, ia satu-satunya sahabatku
yang bisa mengerti keadaan ku setelah ibu meninggal dunia.
Ya Tuhan jangan ambil ayahku, doaku
setiap saat kepadanya
Seminggu kemudian,
Ayah tersadar dan melihat aku
disampingnya. Ia tidak bisa bicara banyak, selain bertanya mengapa aku disini,
mengapa aku tidak berlatih bersama tim musik disekolahku, aku berpura-pura
berkata padanya kalau mereka memberikan aku izin menjaga ayah. Ayah marah
padaku, ia bilang aku harus segera latihan dan ia ingin aku tampil disana.
“ Jangan pedulikan ayah saat ini,
yang penting kamu harus bisa buktikan kepada semua orang kalau kamu bisa
bermain musik dan tunjukkan kepada mereka kamu gadis yang sempurna ”
Aku tau itu berat, tapi aku tidak
ingin ayah bersedih mendengar penolakkan sahabatku di sekolah, ia berjanji
padaku akan lekas sembuh asal aku terus bersemangat latihan musik. Akhirnya aku
pun pergi ke sekolah kembali dan masuk ke kelas musik. Ibu guru menyambutku
dengan baik, dan langsung memintaku berlatih. Setelah ia pergi, Agnes dan
kawan-kawan mendekatiku, mereka mendorongku hingga terjatuh.
“ Kamu itu makluk Tuhan paling
menjijikan, jangan membuat tim kami malu dengan kehadiran kamu di tim music
kami. tidak punya malu, padahal kami sudah mengusirmu..”
Aku terdiam, seorang teman
mengatakan pada Agnes,
“ Percuma dia tuli, dia ga akan
mendengarkan apa yang kita bicarakan.”
Agnes marah merasa aku tidak
mendengarkan semua kemarahannya, Ia bersama teman-teman mendorongku hingga
keluar ruangan, aku mengetuk pintu dan ketika tanganku berusaha membuka pintu,
mereka menjepit tanganku tanpa ampun, aku berteriak kesakitan dan mereka tidak
peduli
“ Astaga dia bisa menjerit juga ya..
kirain dia itu bisu, bisa teriak juga hahaha “ ledek mereka.
Mereka menyiksaku dan aku tidak
berdaya. Tanganku terasa mati rasa, mungkin jariku patah. Aku meminta
tetanggaku untuk membalut luka ini dan ia sangat terkejut dengan keadaanku. Aku
berkata padanya aku terjatuh di jalan. Tapi aku tidak akan pernah menyerah
untuk menjadi tim musik kelasku. Hingga hari itu tiba, dengan luka balut
tanganku aku muncul di sekolah. Sebelumnya aku mengatakan pada ayah .
“ Ayah hari ini aku akan bermain
musik dihadapan semua orang, ayah harus mendengarkan ya. “
“ Anakku, ayah pasti mendengarkan.
Maaf saat ini ayah sedang sakit, ini adalah hari istemewamu. Tapi ayah sudah
pikirkan bagaimana caranya. Ambil telepon genggam ayah dan biarkan itu menyala
saat kamu mainkan.”
“ Baik ayah.” Aku menuruti ide
cermerlang ayah.
Saat aku keluar ruangan, dokter
mengatakan hal kecil disamping ayah “ Jantung anda melemah, anda harus terus
berpikir positif sehingga cepat sembuh”
“ Anak saya akan manggung hari ini,
itu membuat saya cemas”
“ Percayalah , anak anda adalah
gadis luar biasa..”
Aku menangis menuju sekolahku, Saat
aku tiba di sekolah, Agnes dan kawan-kawan melihatku dengan jijik. Sepertinya
mereka tidak mau aku di panggung, mereka manarik bajuku dan menamparku di
belakang panggung.
“ Pergi cepat, jangan pernah ada
disini, kami akan tampil tanpa kamu. Cepat pergi? Sebelum ibu guru datang”
Tidak, aku tidak akan menyerah
walaupun mereka menyiksaku. Aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain musik di
acara sekolah. Karena mereka mendapatkan aku tidak menyerah, akhirnya mereka
mengancam tidak akan tampil dan memaksa aku tampil seorang diri, mereka ingin
membuatku malu.
“ Baiklah, kami tidak akan tampil.
Dan silakan kamu tampil sendirian, jadilah badut diatas panggung..”
Aku tidak mampu berbuat apa-apa
ketika mereka mengikat rambutku layaknya orang bodoh, memoles mukaku dengan cat
warna merah menyerupai badut sirkus. Aku tidak peduli, aku hanya ingin ayah
bahagia dan menepati janji kepada ayah untuk tampil dalam panggung itu. Setelah
puas mendandaniku seperti badut mereka pergi mendorong aku diatas panggung saat
ibu guru yang bertugas menjadi pembaca acara memanggil tim kami dan aku muncul
sendirian, mereka semua berlarian mengumpat.
“ DImana yang lain?” tanya ibu guru,
Aku terdiam, semua orang yang ada di
bangku penonton menertawakan aku, mereka melihat badut yang sedang berada
diatas panggung, aku sungguh tidak bisa berbuat-apa ap.
“ Astaga apa yang terjadi padamu dan
yang lain pergi kemana? Kita tidak akan bisa menjalankan acara music ini.”
Aku mengambil kertas dan
menuliskannya
“ Bu, izinkanlah aku bermain piano
ini, aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain piano , ia sedang terbaring
lemas di rumah sakit, jantungnya melemah hari ini, aku takut ia akan semakin
buruk bila tau aku gagal bermain bersama tim musik di sekolah”
Ibu menatapku, ia sadar bertapa aku
sangat sulit.
“ Baiklah mainkanlah piano ini,
tunjukkan pada dunia kalau kamu adalah orang special dengan musikmu”
“ Terima kasih bu.”
Ibu guru memberikan kata-kata
sambutan kepada penonton yang terus tertawa karena melihat badut sepertiku,
tapi aku tidak peduli. Dengan keunggulan 3g, aku mengadakan video call dan ayah
tersenyum padaku memberikan semangat, keletakkan telepon itu diatas meja piano.
“Tuhan bimbinf aku agar semua
berjalan dengan baik. Dan dengarkanlah musik ini..”
Setiap denting musik mulai
memecahkan semua tawa yang awalnya menghujatku, menghinaku, arunan musik ini
membawa perjalanan kisahku untuk berjuang menunjukkan pada dunia, aku memang
terlahir cacat, aku tidak pernah tau apa artinya musik, tidak tau bagaimana
suara burung, suara ayah bahkan tragisnya aku tidak pernah tau suara yang
keluar dari mulutku sendiri.
Tapi aku percaya, aku tercipta bukan
tanpa tujuan dalam dunia ini. ketika lagu itu usai kumainkan, semua berdiri dan
memberikan tepuk tangan, aku menangis. ibu guru memelukku, aku ingin ibu
menyampaikan pesanku kepada penonton.
“ Terima kasih, memberikan aku
kesempatan untuk berada ditempat ini. Kini aku tau mengapa aku berbeda, karena
Tuhan mencintaiku. Aku tidak akan marah pada Agnes dan teman-teman, aku
bersyukur karena mereka mengajarkan aku tentang ketekunan dan ikhlas. Termasuk
ayah, yang selalu bilang padaku “ kita tidak perlu merasa sedih dengan keadaan
kita, bagaimanapun bentuknya. Karena Tuhan memberikan kita nafas kehidupan
dengan tujuan hidup masing-masing”
Ya aku percaya itu.